Sajak Jangan Karya Herman Syahara

Image result for herman syahara
Herman Syahara, seorang jurnalis dan penulis yang sedang menyelesaikan buku puisi keduanya. | DOKUMEN


Sajak Jangan


Jangan kutip ayat-ayat

kau akan dihujat

Jangan petik kata-kata bijak

kau akan dianggap tukang hoaks

Jangan  sitir renungan penyair

kau akan disebut nyinyir

Jangan tertawa saat nonton acara debat

kau akan kena damprat

Jangan dengar  orasi  idola di lapangan

kau akan ditegur atasan          

Jangan selfie bareng calon pujaan

kau akan kehilangan jabatan

Jangan fitnah lawan

kau akan dilawan

Jangan acungkan jari sesuai keinginan

kau akan  ditinggal  sanak dan kawan

Jangan beritakan kenyataan

kau akan dituduh  partisan

Jangan ungkap   kebenaran

kau akan divonis penabur kebohongan

Jangan pula bilang tak punya pilihan

kau akan diancam pindah kewarganegaraan

 
Inilah aturan dadakan pemilu di negeri awan

belum diundangkan tapi sudah ditegakkan

mungkin karena ada  yang takut tak dapat kekuasaan

dan banyak yang waswas tak kecipratan.

 

April 2019

Karya Herman Syahara


         Herman Syahara, pria kelahiran Garut, Jawa Barat, 1965 ini mulai menulis puisi sejak SMP dengan karya pertamanya yang dimuat di Suratkabar Sinar Harapan Minggu (1979). Antologi puisi tunggalnya terbit pada 2016 dengan judul Mahkamah untuk Secangkir Kopi. 

            Dengan karyanya yang juga masuk dalam puisi favorit Antologi Puisi Yang Melukis Tanahmu Sepanjang Masa (Kampanye Sastra Institut Teknologi Bandung, 2014). Hadir juga dirinya dalam undangan penulisan dan pembacaan puisi pada International Poetry & Folk Festival Ipoh Perak Darul Ridzuan (Pulara) di Perak, Malaysia, 2018.

           Tak hanya itu saja, karya miliknya yang juga terhimpun dalam Antologi Puisi Bersama Pesona Ranah Bundo (Panitia Hari Pers Nasional, Padang, 2018), The First Drop  Rain (Banjarbaru, 2017), Antologi Bersama Ruang Tak Lagi Ruang (Tegal, 2017), Antologi Puisi Bersama Dari Negeri Poci 6 (Negeri Awan, KKK, 2016); Antologi Puisi Bersama Memo Anti Terorisme (Forum Sastra Surakarta, 2016), Antologi Puisi Bersama Memo untuk Wakil Rakyat (Forum Sastra Surakarta, 2015); Antologi Puisi Bersama Puisi Menolak Korupsi (Forum Sastra Surakarta, 2014).

Sekarang, penggemar traveling ini bermukim di Jakarta sebagai jurnalis dan penulis yang kini juga sedang menyelesaikan buku puisi keduanya.



Sumber: akurat.co 

Komentar

Postingan Populer