NASA: Alam Semesta Kini Telah Berkembang 9% Lebih Cepat

Image
Ilustrasi Teleskop Luar Angkasa Hubble NASA | NEWSWEEK.COM

NASA baru-baru mengungkapkan bahwa alam semesta kini berkembang lebih cepat dari yang diperkirakan menurut para ilmuwan setelah adanya peninjauan pengukuran baru dari Teleskop Luar Angkasa Hubble NASA.

Sekitar 9 persen lebih cepat alam semesta kita telah berkembang, dengan adanya hal ini tentu saja menunjukkan bahwa ada sesuatu yang hilang dari model kosmologis yang membantu menjelaskan apa yang terjadi setelah Big Bang.

Galaxy UGC 9391
This Hubble Space Telescope image shows one 
of the galaxies in the survey to refine the measurement 
for how fast the universe expands with time, 
called the Hubble constant.
Credits: NASA, ESA and A. Riess (STScI/JHU)
Banyaknya pengamatan telah dilakukan oleh para ilmuan yang mengetahui bahwa alam semesta telah mengembang dengan adanya pengamatan yang menunjukkan benda-benda jauh di ruang angkasa seperti galaksi bergerak lebih jauh dari kita.


Pada tahun 2011, adanya bukti fisika bahwa alam semesta mengembang dengan kecepatan  yang semakin cepat telah ditunjukkan oleh Adam Riess, Saul Perlmutter dan Brian P. Schmidt yang dianugerahi Hadiah Nobel Fisika

Namun, ternyata dibalik itu ternyata ada masalah dengan menghitung tingkat ekspansi. Kemudian di tahun 2016, NASA mengatakan alam semesta telah mengembang antara 6 dan 9 persen lebih cepat dari yang diperkirakan. Perbedaan ini berkaitan dengan lintasan yang diharapkan dari setelah Big Bang.

"Jika kita mengetahui jumlah awal benda di alam semesta, seperti energi gelap dan materi gelap, dan kita memiliki fisika yang benar, maka Anda dapat pergi dari pengukuran di waktu tak lama setelah Big Bang dan gunakan pemahaman itu untuk memprediksi seberapa cepat alam semesta seharusnya mengembang hari ini,” kata Riess rofesor fisika dan astronomi Bloomberg yang terkenal di The Johns Hopkins University.

Artist's illustration of the three steps to the new Hubble constant
This illustration shows the three steps astronomers used to measure the universe's expansion rate to an unprecedented accuracy, reducing the total uncertainty to 2.4 percent.
Credits: NASA, ESA, A. Feild (STScI), and A. Riess (STScI/JHU)

Pengukuran dan pengamatan dari alam semesta awal, menggunakan satelit Planck dari Badan Antariksa Eropa, menyarankan laju percepatan ekspansi tertentu. Namun, data dari Hubble digunakan untuk menghitung 'konstanta Hubble,' satuan pengukuran yang menggambarkan laju ekspansi alam semesta tidak cocok dengan ini.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam The Astrophysical Journal Letters, Riess dan rekannya mengatakan bahwa peluang perbedaan ini secara kebetulan adalah sekitar satu dari 100 ribu.

"Ketidakcocokan ini telah berkembang dan kini telah mencapai titik yang benar-benar mustahil untuk dianggap sebagai kebetulan. Ini bukan yang kami harapkan," lanjutnya.

Riess juga mengatakan lebih lanjut jika ini bukan hanya dua percobaan yang tidak setuju. Peneliti mengukur sesuatu yang secara fundamental berbeda. 

Satu adalah pengukuran seberapa cepat alam semesta berkembang hari ini, seperti yang kita lihat. Yang lain adalah prediksi berdasarkan fisika dari alam semesta awal dan pada pengukuran seberapa cepat seharusnya berkembang. 

"Jika nilai-nilai ini tidak setuju, ada kemungkinan yang sangat kuat bahwa kita kehilangan sesuatu dalam model kosmologis yang menghubungkan dua era," tutupnya.



Sumber: akurat.co 

Komentar

Postingan Populer