Suara Buruh Saat May Day, Didengar atau Tidak?
![]() |
| BBC.com |
Agenda tahunan para buruh yang diperingati setiap tanggal 1 Mei selalu dipenuhi dengan ramainya aksi demonstrasi di setiap daerah. Pengawalan ketat dari para aparat keamanan selalu mendapingi para buruh ini yang menyuarakan pendapatnya untuk pemerintah.
Mengingat banyaknya masa dari berbagai kelas pekerja dari berbagai daerah, banyak yang mempertanyakan. Apakah demonstrasi tersebut tidak mengganggu stabilitas keamanan?
Ekonom Senior Indef, Didik J Rachbini kemudian menjawabnya. Menurutnya, selama demonstrasi menyuarakan tuntutan kepada pemerintah berjalan tertib dan damai sebenarnya dijamin konstitusi. Siapapun boleh menyampaikan pendapat di depan publik termasuk kepada pemerintah.
"Demo asal tertib tidak masalah. Demo yang memamerkan kekerasan harus ditindak, misalnya memaksa buruh lain untuk demo dengan ancaman dan kekerasan," katanya saat dihubungi di Jakarta, Rabu (1/5/2019).
Sementara itu, Ekonom The Indonesian Institute Muhammad Rifki Fadilah mengungkapkan ihwal kumpul-kumpul dan menyuarakan aspirasi buruh menjadi persoalan klasik yang kadang diterima oleh pemerintah namun tidak ada tindak lanjutnya.
"Apakah ini didengar atau tidak? Bisa jadi hanya kumpul-kumpul saja kalau tidak ada tindak lanjut ke depannya," ujarnya saat dihubungi terpisah.
Bahkan Rifki mengusulkan perlu adanya audiensi dan konsolidasi dengan stakeholders terkait supaya tuntutannya dapat benar-benar tersalurkan dan diwujudkan. Sebab tidak efektif jika tuntutan buruh hanya menjadi catatan pelengkap demokrasi tanpa realisasi dikemudian hari.
"Harapan saya sih supaya bisa ditindaklanjuti, sehingga tahun-tahun berikutnya May Day tidak melulu berisi tuntutan tapi bisa jadi perayaan kemerdekaan para buruh," pungkasnya.
Sumber: akurat.co

Komentar
Posting Komentar