Bukan Kelelahan, Ini Kata Dokter Ahli Penyakit Tentang Meninggalnya Petugas KPPS

Image
Diskusi publik yang dilakukan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) terkait meninggalnya petugas KPPS pasca Pemilu di Sekretariat PB IDI, Menteng, Jakarta Pusat, Senin, (16/5/2019). | AKURAT.CO/Abdul Haris

Dugaan meningganya sekitar 583 petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) pasca Pemilu 17 April 2019 di berbagai daerah karena kelelahan ternyata kurang tepat.

Hal ini sesuai dengan penuturan dokter Spesialis Penyakit Dalam, Prof. dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD. KHOM dalam diskusi publik Ikatan Dokter Indonesia di Sekretariat PB IDI, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (13/5).

"Jadi, yang meninggal 583 orang petugas dan yang sakit 4602 orang berdasarkan data per 10 Mei. Ini murni masalah kesehatan masyarakat (bukan kelelahan) dan menyentuh kepedulian sosial kita," ungkapnya.

Adanya riwayat penyakit yang diderita para petugas KPPS lah yang menyebabkan kematian mendadak setelah melakukan penghitungan suara, kata dr. Zubairi.

"Menurut WHO kematian mendadak kematian yang terjadi 24 jam dari ada gejala dan tidak bisa ditemukan awal sebabnya. Tentu kematian mendadak tidak harus di awal," tambahnya.

"Kematian ini bukan karena pembunuhan dan kecelakaan karena tidak ditemukan tanda-tandanya. Kemungkinannya serangan jantung dan stroke jadi pencetusnya tekanan yang dipengaruhi karena kelelahan dan stress. Kelelahan bukan penyebab utama," lanjutnya.

Lebih lanjut, Zubairi mengatakan bahwa risiko kematian mendadak tidak hanya dimiliki oleh orang-orang dengan riwayat penyakit. Orang sehat saja bisa mengalami hal demikian. 

Bahkan olahragawan bisa saja meninggal karena kematian mendadak yang biasanya disebabkan karena heart attack dan stroke.




Sumber: akurat.co 

Komentar

Postingan Populer