Pemerintah Masih Pertimbangkan WNI Anggota ISIS Yang Ingin Pulang Ke Tanah Air
| The Duran |
Sabtu, 23 Maret yang lalu kelompok teroris ISIS telah dinyatakan kalah setelah benteng terakhirnya di Baghouz direbut oleh Pasukan Demokratik Suriah (Syrian Democratic Forces, SDF). Kejatuhan ISIS sudah dapat dilihat setelah berkuasa bertahun-tahun dengan direbutnya wilayah-wilayah kekuasaannya oleh pasukan koalisi SDF dan milisi Kurdi.
Pertempuran terkahir yang terjadi di Baghouz bahkan di gemur habis-habisan oleh pasukan koalisi yang membuat ribuan kombatan dan anggota keluarga ISIS keluar dari persembunyiannya di mana terdapat wanita dan anak-anak dalam jumlah besar.
Mereka yang kombatan ditahan di bawah otoritas Rojava-Kurdi, sementara untuk wanita dan anak-anak ditempatkan berbeda di kamp pengungsian Al-Hol.
Selama masa jayanya, ISIS berhasil merekrut banyak orang-orang asing untuk dijadikan anggota mereka. Bahkan biasanya, para pria akan dijadikan kombatan dan wanita akan dijadikan istri, meskipun ada pula pria yang tidak diterjunkan ke medan tempur.
Para pejuang asing tersebut berasal dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Dan bahkan telah diperkirakan setidaknya ada 50 warga negara Indonesia yang menjadi anggota ISIS yang saat ini ditahan di kamp pengungsian Al-Hol. Para pejuang asing yang bergabung dalam ISIS juga umumnya terpikat dengan propaganda kekhalifahan kelompok teroris tersebut.
Salah satu WNI yang berhasil diwawancara adalah Mariam Abdullah, ibu empat anak asal Bandung, Jawa Barat. Mariam mengaku berangkat ke Suriah bersama suaminya yang kini hilang tanpa kabar. Namun ketika ditemui, Mariam bersama putri kecilnya yang bernama Nabila yang tengah menyuapi tiga adiknya.
"Nama saya Mariam dari Jawa Barat, Bandung. Saya di sini dengan empat anak dan saya keluar dari Baghouz dua hari yang lalu," tuturnya.
Ia kemudian memberitahukan bahwa suaminya bernama Saifuddin dan menjelaskan bahwa sang suami hilang. Mariam juga berharap ia dan anak-anaknya dapat kembali pulang ke Tanah Air.
"Kami minta bantuan untuk bisa pulang lagi ke negara asal kami, ke Indonesia," tuturnya.
Studi lembaga riset Pusat Internasional untuk Studi Radikalisasi dan Kekerasan Politik (International Centre for the Study of Radicalisation and Political Violence, ICSR) mengungkapkan bahwa perempuan dan anak-anak memiliki peran signifikan dalam menyebarkan ideologi ISIS.
Hingga saat ini, pemerintahan Indonesia masih mempertimbangkan pemulangan warga negara yang bergabung dengan ISIS.
Pertimbangan tersebut dilakukan di bawah kerja sama lintas lembaga dari Kementerian Politik Hukum dan HAM, Polri, BNPT, Densus 88, Imigrasi dan Kementerian Luar Negeri.
Sumber: akurat.co
Komentar
Posting Komentar