Senator Malaysia Ini Panen Hujatan Karena Usulkan RUU Lindungi Pria dari Godaan Wanita
![]() |
| Dailymotion |
Usai mengusulkan rancangan tentang undang-undang pelecehan seksual, Seorang senator Malaysia, Mohammad Imran Abdul Hamid kini dikabarkan telah meminta maaf.
"Meskipun niat saya tulus, saya tidak berharap itu dilihat sebagai kesalahan besar yang telah menyinggung banyak wanita dan tidak sedikit pula pria yang menganggap itu sebagai penghinaan," ujarnya.
Pasalnya, Rancangan Undang-Undang pelecehan seksual untuk melindungi pria dari 'rayuan' wanita untuk melakukan kejahatan seksual itu menuai berbagai kecaman dari politisi dan kelompok hak asasi perempuan.
Anggota dari Partai Keadilan Rakyat koalisi yang berkuasa, mengatakan kepada senat pada hari Rabu (31/7) bahwa undang-undang seperti itu diperlukan untuk 'memastikan laki-laki aman dan negara itu damai'.
"Saya ingin menyarankan kepada menteri apakah kita dapat membuat Undang-Undang Pelecehan Seksual bagi pria untuk berurusan dengan tindakan, perkataan, atau cara berpakaian wanita yang dapat menggoda pria untuk melakukan inses, pemerkosaan, pelecehan seksual, dan pornografi, di antara hal-hal lainnya," katanya.
"Kita juga perlu dilindungi, karena apa yang dipakai wanita, kita tergoda dan akhirnya melanggar hukum negara dan menghadapi penuntutan," lanjutnya dalam sebuah video yang beredar di media Malaysia, dilansir dari laman Reuters, Kamis (1/8).
Hal ini juga di minta oleh Anwar Ibrahim, pemimpin Partai Keadilan Rakyat, kepada Mohamad Imran untuk menarik kembali kata-katanya dengan mengatakan mereka menghina perempuan. Bahkan Anwar Ibrahim dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa tindakan itu memberikan kesan bahwa pria itu tidak bermoral dan mudah tergoda untuk melakukan tindakan keji.
Komentar Mohamad Imran bertepatan dengan rilis pada hari Rabu sebuah studi tentang sikap pria Malaysia terhadap seks, pendidikan seks, dan consent (persetujuan).
Menurut laporan oleh Pusat Studi Pemerintahan dan Politik, hanya 35% dari 2.000 pria yang diwawancarai untuk penelitian ini mengidentifikasi ungkapan "ya" sebagai bukti consent dari pasangan mereka untuk melakukan hubungan seksual.
Sumber: Akurat.co

Komentar
Posting Komentar